Repost: AroAceIndonesia FB Page “Asexual Resources in Indonesia”

Hari ini, tanggal 23 Oktober 2016, adalah hari pertama dari tujuh hari perayaan Asexual Awareness Week atau singkatnya AceWeek tahun ini.
Seperti namanya, Asexual Awareness Week diadakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat umum maupun komunitas LGBTIQ+ tentang Aseksualitas. Bahwa kita beneran ada dan bukan manusia yang ‘rusak’ atau cuma cari perhatian. Bahkan penelitian yang dilakukan oleh dua orang Professor dari sebuah Universitas di Kanada sudah membuktikan bahwa Aseksualitas itu adalah orientasi seksual dan bukan disfungsi seksual.
.
Kembali lagi tentang kesadaran masyarakat tentang Aseksualitas di Indonesia ini masih sangat rendah. Apalagi masih sedikit sekali sumber bacaan yang membahas Aseksualitas dalam bahasa Indonesia. Seperti yang saya alami saat mencari tau tentang Aseksualitas, saya malah menemukan banyak blog dan pembahasan soal Aseksualitas di situs Tumblr (yang katanya tidak bisa dijadikan sumber pengetahuan yang benar tentang apapun). Dari Tumblr juga saya jadi tau tentangAVEN atau Asexual Visibility and Education Network yang sayangnya tidak bisa saya akses dari telepon genggam saya.
Karena itulah saya akhirnya memutuskan untuk menuliskan pengalaman saya di blog ini dan juga laman FB AroAceIndonesia sebagai salah satu sumber bacaan tentang Aseksualitas dengan bahasa Indonesia.
.
Berapa lama setelah saya tau tentang Aseksualitas dan melela atau came out sebagai Asexual saya masih mengira kalo saya adalah satu dari sedikit orang Indonesia yang tau mengenai Aseksualitas. Tidak saya temukan satu tulisan pun soal Aseksualitas dari beberapa situs berita dan blog milik organisasi atau komunitas LGBTIQ+ dan pendukungnya yang saya tau. Beberapa kanal berita online memang menulis berita/pengakuan seorang Asexual tapi semuanya adalah hasil terjemahan dari artikel berbahasa asing.
.
Tapi apa yang saya dapati setelah bertanya ke beberapa aktivis LGBTIQ+ sungguh membuat saya terkejut. Pertanyaan saya tentang tau atau tidaknya mereka mengenai Aseksualitas dijawab dengan “Tau dong. Setiap orang yang belajar SOGIEB (Sexual Orientation, Gender Identity, Expression and Bodies) pasti tau karena Aseksualitas dibahas di situ”. Tapi kenapa mereka tidak pernah membahas atau menyinggung tentang hal itu di situs mereka atau di tempat yang bisa diakses umum? “Karena belum ada yang secara terbuka mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Aseksual”.
.
Entahlah, tapi sepertinya bukan saya sendiri saja yang mempertanyakan logika dari pernyataan tersebut.
Bagaimana bisa seseorang mengidentifikasi diri mereka sebagai seorang Aseksual jika mereka tidak memiliki pengetahuan apapun tentang Aseksualitas? Dan bagaimana bisa mereka mencari tau tentang Aseksualitas jika tidak ada satu pun sumber berita/pengetahuan yang membahas soal itu? Walaupun sumber pengetahuan ada di genggaman kita (internet) tapi kalo kita tidak tau kata kunci yang tepat untuk ditulis di mesin pencarian, semuanya tentu jadi tidak berguna.
.
Saya mulai sadar kalo saya jauh berbeda dari kebanyakan orang sejak saya berumur 25an karena saat itu saya mulai semakin didesak soal pernikahan. Padahal saya sudah mulai sadar diri sejak pertama kali (dan satu-satunya) saya ‘pacaran’. Tapi saya anggap wajar karena waktu itu saya masih SMP dan pacarannya pun cuma karena penasaran sebab teman-teman saya juga sudah mulai pacaran.
Setelah itu saya memutuskan untuk tidak ikut arus dan memilih untuk menunggu saja jodoh yang mungkin sudah Tuhan siapkan untuk saya.
Tapi ketika menginjak umur 25 saya mulai ragu dan berpikir kl pasti ada yang tidak beres dari diri saya. Mencoba mencari tau tapi saya sendiri tidak tau kata kunci untuk bisa mendapat jawaban yang paling tepat. Bahkan saya pernah beranggapan kl mungkin saya ini adalah Panseksual yang belum ketemu jodohnya saja.
.
Semua mulai tampak lebih jelas saat saya membaca tentang seorang chef dari Jepang yang memotong, memasak, lalu menghidangkan alat kelaminnya karena merasa itu adalah bagian tubuh yang tidak dia perlukan sebagai seorang Aseksual.
Tanpa ada kehebohan berita itu, mungkin sampai sekarang pun saya masih tetap mempertanyakan tentang apa yang salah dari diri saya. Makanya sangat aneh kalo para aktivis LGBTIQ+ menginginkan seorang Aseksual yang memulai menulis tentang Aseksualitas di tempat yang sama sekali tidak pernah memberikan pengetahuan tentang hal itu. Apa karena mereka takut salah? Tapi kan mereka mendapat pendidikan tentang SOGIEB, setidaknya mereka bisa menulis tentang apa yang mereka dapatkan dari situ. Saya rasa bahkan bila mereka hanya menyebut tentang Aseksual dan pengertiannya saja sudah cukup.
.
Yah tidak perlu lagi kita menyesali apa yang sudah terjadi. Yang penting sekarang kita bisa fokus meningkatkan kesadaran tentang apa itu Aseksualitas di Indonesia.
.
.
.
#AroAceIndonesia #AsexualAwarenessWeek #AceWeek #AsexualIndonesia #Asexual

Advertisements

Repost: AroAceIndonesia FB Page “#AsexualAwarenessWeek 2016”

Tau ga kalo tanggal 23 Oktober sampai 29 Oktober 2016 ini akan diadakan acara #AsexualAwarenessWeek?
Acara ini rutin diadakan setiap tahunnya di akhir bulan Oktober. Ini bermula di tahun 2010 ketika seorang aktivis dari California, Sara Beth Brooks, bekerja sama dengan David Jay dari AVEN ingin meningkatkan pengetahuan dan penerimaan Aseksualitas di kalangan LGBTIQ+ juga masyarakat umum.
Tahun pertama itu berlangsung sepenuhnya online, lewat situs dan blog. Tahun berikutnya acara ini bisa diselenggarakan di 25 kota di 5 negara. Baru di tahun 2013 ditetapkan secara internasional bahwa #AsexualAwarenessWeek akan diadakan setiap minggu terakhir di bulan Oktober.
.
Tahun lalu adalah tahun pertama saya mengikuti acara #AsexualAwarenessWeek ini. Tentu saja saya hanya bisa mengikutinya di dunia maya, lewat beberapa media sosial saya aktif menulis di minggu itu. Tulisan saya tentang pengalaman sebagai seorang Asexual juga sempat diterbitkan oleh sebuah media LGBTIQ+ bertepatan dengan acara ini.
.
Untuk tahun ini terus terang saya belum menyiapkan apa-apa. Saya harus mencari ide dan melepaskan diri dari rasa malas yang sudah menghantui beberapa bulan ini (malas nulis tapi rajin merajut).
Apakah ada hal yang kalian ingin tau atau baca di fp ini? Atau adakah yang punya ide untuk ikut menyemarakkan perayaan #AsexualAwarenessWeek tahun ini sekaligus meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang Aseksualitas? Sebenarnya saya ingin tau pengalaman hidup kalian semua dengan Aseksualitas, tapi apakah kalian bersedia berbagi? Kalian bisa mengirim pesan ke fp ini dan akan saya share tanpa data pribadi pengirim.
Selain ide dan pengalaman, silakan kirim tulisan, kritik, saran, juga pertanyaan apapun ke fp ini. Saya akan coba balas sejelas dan sejujur mungkin.
.
.
. (Sumber: AsexualAwarenessWeek )
#AroAceIndonesia #AsexualIndonesia #AsexualAwarenessWeek #Asexuality

Repost: AroAceIndonesia FB Page “Apologize…?”

Wah baru juga selesai nulis status terbaru eh ternyata sudah ada tanggapan dari American Apparel.
.

image

“Kami mendengar kalian dan kami menghormati seluruh spektrum orientasi seksual dan identitas gender termasuk Asexual, Pansexual, Omnisexual, Agender, Genderfluid, Genderqueer, dan lainnya. Kami mencoba untuk inklusif dalam bahasa dan produk kami, mengenali bahwa ada banyak sekali identitas untuk dirayakan. Kami juga percaya pada kekuatan allies untuk angkat bicara ketika mereka yang ada di sekitarnya takut akan tindakan kekerasan atau menghadapi stigma. ”
.
Terserah kalian mau berpikir apa tentang tulisan dari American Apparel ini. Tapi kalo dilihat dari kata-katanya, sepertinya mereka belum mau mengakui kesalahan atau bahkan berniat untuk minta maaf dan mengganti produknya yang bermasalah itu.
.
.
. (sumber: https://twitter.com/
americanapparel/status/
741126572061659140 )
#AroAceIndonesia #Asexual #Aromantic
#AmericanApparel #GiveItBack
#WeGotYourBack #LGBTQIAP

Repost: AroAceIndonesia FB Page “#GiveItBack”

Beberapa hari ini Twitter sedikit dihebohkan dengan adanya tagar #GiveItBack yang ditujukan ke akun Twitter resmi American Apparel. Kebanyakan tagar itu dipakai oleh komunitas Asexual untuk mempertanyakan keputusan perusahaan ritel itu tentang produk yang mereka keluarkan dalam kampanye “Make America Gay Again” dan “Make America LGBT Again” mereka.
.

image

Dalam kampanye yang bekerja sama dengan Human Rights Campaign dan The Ally Coalition (yang 30% dari keuntungan akan disumbangkan untuk mendukung perjuangan LGBT) itu mereka meluncurkan beberapa produk pakaian dan aksesori dengan slogan kampanyenya, bendera pelangi Amerika, dan banyak lagi. Salah satunya adalah pin dan tas kain dengan tulisan seperti di gambar ini.

image

Ketika ‘A’ dari LGBTIQAP diartikan sebagai Ally, dan bukan Asexual (dan/atau Aromantic dan Agender). Dengan hanya menaruh “Ally” di situ, sama saja mereka sudah menginvalidasi dan menghapus -lebih dari- satu identitas.
.
Apakah itu ada hubungan dengan The Ally Coalition (dikepalai Antonoff bersaudara) yang hanya sekedar, ya ‘straight allies’, tapi menjadi bagian yang cukup penting dalam kampanye itu?
.
Penulis Nita Tydall menjelaskan du Twitter bahwa pada kasus ini, menggantikan “Asexual” dengan “Ally” bukan hanya pertanyaan semantik tapi juga satu cara perusahaan besar mengistimewakan satu golongan mayoritas di atas grup minoritas di tempat yang dikhususkan untuk memberi suara pada mereka yang tidak bisa/punya suara.
.
“Ookay. Different note. Let’s talk about why cishet allies claiming a seat at the queer table is problematic @AmericanApparel”
.
“Asexuality has been looked down on even in the queer community. It’s often erased, forgotten, seen as making things up for attention”
.
“We’re called “not queer enough”. We’re sexless, frigid robots. Our representation in media is practically invisible”
.
“And you’re going to tell me the A stands for “Ally”, @AmericanApparel? Fuck that. ”
.
“The A stands for Asexual. You want to be an ally? Tell @AmericanApparel to #GiveItBack.”
.

image

Tahun lalu, GLAAD juga sempat melakukan kesalahan yang sama saat meluncurkan kampanye #GotYourBack yang menganjurkan straight allies untuk berdiri bersama dengan mereka yang non-straight allies dan menggunakan kalimat “A is for Ally” dalam promosinya. Tapi mereka cukup cepat dalam menanggapi kritikan yang juga menggunakan tagar #GiveItBack dan meminta maaf dengan menulis, “Let us say without equivocation, the “A” in LGBTQIA represents millions of Asexual, Agender and Aromantic people who are far too often left out of the conversation about acceptance. It was never, ever our intention to suggest otherwise, and we apologize”.
.
Hingga saat ini belum ada jawaban resmi dari American Apparel. Semoga saja mereka juga akan minta maaf dan mau mengubah detil di produknya. Mumpung masih baru.
.
.
. (sumber: http://fusion.net/story/311337/give-it-back-twitter-american-apparel/?utm_campaign=ThisIsFusion&utm_source=Twitter&utm_medium=social)
. ( https://storify.com/nitatyndall/the-a-is-for-asexual)
.
#AroAceIndonesia #Asexual #Aromantic #Agender #GiveItBack #AmericanApparel #GLAAD #LGBTQIAP

Repost: AroAceIndonesia FB Page “Pride Month”

image

Happy Pride Month, everyone!
.
Walaupun Aromantic belum masuk daftar, tapi lumayanlah karena akhirnya Asexual diakui juga sama Google untuk menjadi bagian dari ‘acara’ Pride Month yang mereka dukung tahun ini.
.
Pride Month di bulan Juni ini sebenarnya cuma berlaku di Amerika untuk mengenang kejadian Stonewall Riots yang terjadi di akhir bulan Juni tahun 1969. Awalnya mantan Presiden Bill Clinton menetapkan bulan Juni sebagai Gay & Lesbian Pride Month pada Juni tahun 2000 (ironi karena yang menjadi pusat Stonewall Riots adalah para wanita transgender). Baru tahun ini Presiden Obama menetapkan bulan Juni sebagai Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender Pride Month (selain itu mungkin harus nunggu validasi dari Google, seperti kita).
.
I’m an out and proud Asexual woman.
.
Beberapa bulan setelah saya tau dan yakin kalo saya seorang Asexual, saya memberanikan diri terbuka kepada orangtua (ibu dan ayah tiri) terutama Ibu. Tadinya saya pikir mereka cukup berpikiran terbuka, mereka tidak punya masalah ketika kebanyakan (mantan) teman saya adalah pria gay. Bahkan Ibu sempat bilang kalo dibolehkan dalam agama (menurut pendapat beliau) Ibu akan lebih memilih untuk bisa bersama dengan seorang perempuan.
.
Tapi ternyata mereka adalah tipe orang “aku ga masalah kl orang lain yang begitu, yg penting keluargaku engga”.
.
Berbagai pernyataan dan pertanyaan seperti yang sering saya baca di blog tentang Aces pun ditujukan padaku. Ketika itu juga saya mulai tidak memperdulikan apa yang orang lain pikirkan tentang saya dan juga seksualitas saya karena apa yang mereka pikirkan dan rasakan tidak sebanding dengan apa yang orangtua saya pikirkan dan rasakan tentang saya.
Walaupun saat ini orangtua saya, terutama Ibu, belum benar-benar bisa menerima saya tapi setidaknya beliau sudah cukup bisa menghargai keputusan saya.
.
Come out atau melela untuk seorang Asexual memang sedikit lebih kompleks daripada seseorang dengan orientasi seksual lainnya. Kita tidak bisa hanya bilang “Pak, Bu, anakmu ini Asexual lho”, dan berharap mereka langsung paham kita ini sedang bicara tentang apa. Setidaknya kita harus bisa menjelaskan ‘what is and isn’t’ soal Aseksualitas. Apalagi kalo mereka punya pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin kita tidak sanggup atau tidak mau jawab. Mau bagaimana lagi, kemungkinan kita adalah satu-satunya sumber pengetahuan mereka tentang Asexual (terutama bagi yang ga melek internet). Tapi apa Kita wajib untuk menjawab semuanya?
.
Bagi saya, melela atau come out adalah hak masing-masing individu. Tidak ada seorang pun yang berhak memaksa orang lain untuk come out di luar kehendaknya. Bahkan tidak juga pasangan mereka.
.
Lebih memilih skenario yang mana kalo A pacaran dengan B, lalu A come out karena dia percaya pada B, atau karena B memaksa ingin tau (dasarnya karena B tidak percaya kepada A)?
.
Banyak pertanyaan dan pernyataan yang mungkin akan kita terima saat kita come out, dan kita berhak untuk tidak menjawab atau menanggapi semua itu. Hanya karena kita adalah satu-satunya sumber nyata tentang Aseksualitas, bukan berarti kita punya kewajiban untuk mendidik semua orang. Apalagi bila pertanyaan yang kita terima menyangkut hal yang sangat pribadi, seolah mereka melupakan tata krama saat mereka menemukan ‘mainan’ baru yang menarik.
Ya, kebanyakan dari mereka hanyalah orang kepo yang cuma ingin tau tapi tidak perduli tentang kita. Sebagian dari mereka hanya ingin memuaskan rasa penasaran mereka dengan dalih apapun, dan akan berbalik ‘menyerang’ kita bila mereka rasa kita tidak cukup layak dalam memberi jawaban atau penjelasan.
.
Sekali lagi, KITA TIDAK PUNYA KEWAJIBAN UNTUK MENDIDIK ORANG LAIN TENTANG ASEKSUALITAS DAN/ATAU AROMANTIC. Bila mereka ingin tau lebih banyak dari apa yang kita sanggup jawab, mereka berkewajiban untuk mendidik diri mereka sendiri dengan mencari tau semua yang mereka ingin tau, sendiri. Kita saja bisa kok nemu segala macam tentang Asexual ketika tidak ada orang lain yang membicarakannya, kenapa mereka tidak bisa? Mungkin lebih tepatnya tidak mau karena itu akan membuang waktu mereka (dan mereka tidak sadar dan/atau tidak perduli kalo kita membuang waktu kita untuk mengedukasi mereka).  Dan sepertinya karena mereka merasa berhak (entitled) untuk mendapat jawaban, seperti seseorang di Twitter yang bilang karena saya yang sudah membuka ‘forum’ maka saya berkewajiban untuk memberi jawaban dan penjelasan kepada mereka semua.
.
Bila kalian punya pertanyaan seputar Aseksualitas dan/atau Aromanticism, silakan kirim pesan langsung lewat FP ini. Kalian bisa bertanya apapun, karena ini adalah ‘forum’ yang terbuka untuk itu. Jadi jangan sama ratakan kalo semua Asexual dan/atau Aromantic yang kalian temui bisa dan mau menjawab pertanyaan kalian, apalagi yang bersifat pribadi. Dan ingat tata krama dalam berinteraksi dengan orang lain. Medianya mungkin berbeda tapi orang-orangnya masih sama. Dan internet itu bukan dunia lain, bila seseorang tidak sopan di sini, bisa kalian pastikan kalo saya juga akan menganggap mereka juga tidak akan sopan di dunia nyata.
.
.
#AroAceIndonesia #Asexual #PrideMonth #ComeOut #Manners

Repost: AroAceIndonesia FB Page “Winner”

Ibu: ya sudah, Ibu ga bakal minta cucu dari kamu. kalo memang ini sudah takdirnya… 
Saya: oke…
Saya: (YES! YES! YES! AKHIRNYA SUKSES JUGA! GA SIA-SIA USAHA SELAMA INI)
.
Sebenarnya kurang tau kalo apa yang Ibu bilang tidak minta cucu = surat ijin tidak menikah. Tapi kalo tidak pun tidak apa-apa. Itu artinya perjuangan masih terus berjalan. Semangat!

~yuu