Stereotypes

Setelah semedi beberapa lama, akhirnya aku mendapat wangsit kalau aku ini selain Asexual juga Aromantic, dan bisa juga Aplatonic.

Ribet banget sih! Paling cuma pengen jadi special snowflake aja.

Kalo ada yang berpikir begitu ya monggo. Kan bukan mereka yang merasakan dan menjalani hidupku. Tapi buat mereka yang ingin tau dulu apa yang aku bicarakan sebelum membuat kesimpulan sendiri, saya ucapkan terima kasih.

Buat mereka yang sudah pernah membaca postingan-ku sebelum ini pasti sudah familiar dengan kata Asexual. Ya, aku tidak pernah merasakan ketertarikan secara seksual terhadap siapapun. Sedangkan ketertarikan seksual sendiri biasanya dijelaskan sebagai keinginan untuk melakukan hal-hal seksual terhadap orang lain tanpa rangsangan dan/atau di luar ‘situasi’ seksual.
Aku yang walaupun suka membaca smutty fanfictions, yaoi manga, dan secara teknis tau tentang segala hal yang berhubungan dengan aktivitas seksual tapi tidak ingin melakukan hal-hal itu di dunia nyata. Aku tidak jijik dengan aktivitas seksual, aku hanya tidak peduli.

Aku juga pernah menjelaskan sedikit tentang Aromanticism di sini. Secara garis besar Aromantic itu tidak mempunyai ketertarikan secara romantik, yaitu keinginan untuk melakukan kegiatan non-seksual dengan seseorang, hal-hal yang tidak akan kamu lakukan dengan seseorang yang kamu anggap hanya sebagai teman (contoh: pacaran, ciuman, dll).
Aku tidak tertarik untuk pacaran dan/atau menikah. Aku juga tidak bisa merasakan apa yang orang lain sebut jatuh cinta.

Dan terakhir Aplatonic, yang baru aku sadari akhir-akhir ini. Itu juga bukan kata yang ‘resmi’ yang dipakai orang untuk menjelaskan apa yang mereka rasakan, tapi aku merasa kata itu cukup simpel untuk pengalamanku.
Bisa dibilang Aplatonic itu adalah tidak adanya ketertarikan untuk menjalin hubungan platonis seperti teman atau sahabat. Dan itulah yang aku rasakan selama 31 tahun lebih aku hidup. Aku tidak pernah punya sahabat, teman pun biasanya hanya kenalan atau teman sekelas atau kerja biasa. Aku dulu mengira kalau aku ini orang yang cepat bosan saja, bahkan dalam hal pertemanan. Aku hanya akan aktif menjaga hubungan bila mereka memiliki hal yang menarik perhatianku. Bisa saja karena hobi kami yang sama atau karena kepribadiannya. Tapi setelah aku lebih mengenal mereka, aku jadi kehilangan minat untuk menjaga hubungan pertemanan itu. Apalagi kalau mereka juga tidak berusaha menjaga komunikasi. Tapi aku juga tidak akan mengacuhkan mereka bila mereka datang kepadaku untuk satu dan lain hal.

Dari semua itu, bisa dibilang aku adalah model stereotipe Asexual seperti yang dipikirkan banyak orang di luar sana. Seorang Asexual yang juga Aromantic, tidak peduli tentang seks, tidak ingin pacaran/menikah dan punya anak, tidak punya hati (tidak bisa jatuh cinta), berwajah standar sampai tidak ada yang tertarik untuk mendekati (berkah), introvert, tidak punya teman, dan sedikit aneh.
Adakah hal yang ingin ku ubah dari diriku sendiri? Tidak. I’m proud to be who I am.
Apakah itu menjadikan aku special snowflake? Buatku, setiap manusia di dunia ini adalah special snowflakes. There are nothing not special about snowflakes. Mereka memiliki keindahan dan juga kekurangan sendiri-sendiri yang kadang sulit dilihat dengan mata telanjang. Dan bersama-sama kita memenuhi dunia ini, walaupun kadang kita dipuji dan lain kali kita dimaki.
Jadi kalau ada yang bilang aku ingin jadi special snowflake, I am a special snowflake. We all are special snowflakes.

~yuu

Advertisements

6 thoughts on “Stereotypes

  1. Keren nih. Gue juga sama, asexual, aromantic, dan aplatonic. Biasanya orang” nganggep aneh krn umumnya org” seumuran ( saya 19 thn ) lagi demen”nya pacaran. Dibilang terlalu pemalu, atau justru tertekan. Lol. Mereka ngga ngerti aja….

    1. Makasih buat komennya. Senang banget deh bisa kenal sama yang ngerasain hal yg sama lewat blog ini.
      Yah mereka bakal sulit mengerti. Apalagi kl sudah seumur aku yg ‘seharusnya’ udah pengen nikah dan punya anak. Sampe capek dengernya.

  2. oh yes yes.. menikah itu bukan untuk semua orang. Menikah itu pilihan pribadi. If only i knew what marriage do to (my) life.. Malah kalau bisa, aku mah punya anak aja tanpa harus nikah. Aku (ternyata) suka anak-anak.. hahahha
    Menikah itu ribet, urusannya kadang ga cuman ama suami sendiri tapi biasanya yg ribet malah keluarga besar. Ampun lah.. hahaha.. malah curhat.

    Anyway, salam kenal ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s