Wedding Traditions

Indonesia itu punya banyak pulau, banyak suku bangsa, dan tentu saja banyak pula tradisinya. Salah satu contohnya adalah tradisi pernikahan.

Kemarin, tanggal 19 Juli 2015, aku menghadiri acara pernikahan adik dari Ayah di Kuningan, Jawa Barat. Tidak seperti pernikahan di suku ataupun tempat lainnya, tradisi pernikahan di Kecamatan Japara, Kuningan ini sangat menguras uang; baik dari pihak mempelai juga pihak tamunya.
Dari pihak mempelai laki-laki, pengeluaran sudah dimulai dari jauh hari. Bukan hanya mas kawin, calon mempelai pria harus membawa banyak barang bawaan yang dipersembahkan ke pihak mempelai wanita. Mulai dari lemari pakaian, seperangkat meja dan kursi, kasur, bahkan sampai termos air dan sendok garpu. Tentu tidak masalah jika semua itu berakhir untuk keperluan kedua mempelai nantinya, tapi lebih sering semua ditinggal di rumah orang tua mempelai wanita. 
Dari pihak mempelai wanita, mereka akan mendatangi semua keluarga dari kedua belah pihak sambil membawa apa yang disebut junjungan, sehari sebelum hari H. Isinya adalah satu cething penuh nasi dan lauk pauknya (satu ayam utuh dan dua ekor ikan yg digoreng, satu mangkuk opor daging, satu piring orek tempe, dan satu piring kentang balado), satu karton mie instan, satu ember kecil tape uli, satu plastik rengginang mentah, satu plastik telur asin, satu kotak kue lapis legit, dan juga satu plastik sardin kalengan. Banyak sekali, kan? Masalahnya yang diberi semua itu juga harus mengembalikannya ke pihak mempelai wanita dalam bentuk uang kontan ( minimal 500ribu IDR), atau bisa dicampur dengan beras, seprei, dan semacamnya. Mau tidak mau mereka harus menerimanya, ‘artinya kita dianggap saudara’ kata sepupu Ayah.

Saat acara pernikahan, ada lagi acara saweran untuk kedua mempelai. Dua kali. Yang pertama saat mempelai dan teman-temannya membaca Al-Quran, saweran ditujukan untuk kedua mempelai. Lalu yang kedua, saweran lebih ditujukan ke tamu (beras, permen, dan uang dilemparkan ke arah mempelai yang dibelakangnya sudah bersiap tamu-
tamu yang akan berebut semua itu).

Belum lagi uang yang di dalam amplop untuk kondangan. Bila di Bekasi, bisa dibilang numpang makan kalau ke acara resepsi, tidak seperti itu kalau di Kuningan. Memang masih ada yang ‘numpang makan’, tapi tidak untuk keluarga dekat mempelai.

Tradisi pernikahan yang sudah sangat praktis saja masih banyak yang komplen (dari kedua pihak calon pengantin), apalagi yang seperti ini. Dan seperti tradisi lainnya, aku berharap masih akan bisa terus dilestarikan. Walaupun mungkin tidak perlu se’WAH’ itu.

~yuu

Ps: ini adalah apa yang aku alami di satu acara pernikahan di kecamatan Japara, kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Jadi bukan suatu patokan bahwa semua tempat seperti itu. Mungkin ada persamaan dan perbedaan di tempat lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s