What Does It Mean to Grow Old Alone?

Postingan kali ini mungkin akan membuat sebagian pembaca merasa tidak nyaman.
Trigger warning: thought of ways to take own life.

|x|

Sebagai seorang Aseksual Demiromantic (atau mungkin lebih tepatnya Cupioromantic alias orang yang menginginkan hubungan romantic tapi tidak bisa merasakan ketertarikan secara romantic), bisa dibilang aku tidak begitu mempersoalkan bila akhirnya aku akan membujang seumur hidup. Selain karena orientasi seksual dan romans-ku, juga karena tidak belum adanya orang yang membuatku tertarik dengan pernikahan.
Mungkin sedikit tidak biasa, tapi dalam pikiran-ku kata nikah itu sama dengan stuck with the same guy for the rest of my life. Walau bagaimana orang itu berubah setelah menikah, aku harus terima karena aku sudah membuat pilihanku sendiri. Mungkin itu hanyalah efek samping dari pengalamanku sebagai anak yang kedua orangtua-nya bercerai dan masing-masing menikah kembali dengan orang lain, tapi tetap ada ketakutan kalau aku akan mengacaukan segalanya jika aku memutuskan untuk menikah.

Apalagi masalah anak, setelah memiliki dan ikut membantu mengurus keempat orang adik, dorongan untuk memiliki anak sudah sangat jauh berkurang. Mungkin hampir tidak ada.

Lalu aku membaca tulisan Laura untuk sebuah website wanita muslim di sini (judul postingannya aku colong sebagai judul postingan-ku ini). Di situ dia bercerita tentang Pamannya, yang tidak pernah menikah, jatuh sakit dan kemudian tinggal di panti jompo (atau semacamnya) karena tidak ada yang merawat si Paman di rumahnya. Setelah sebelumnya ada juga sepupu perempuan Ayah Laura, yang juga tidak pernah menikah, meninggal di rumahnya dan baru ditemukan dua hari kemudian.

Sama seperti yang dirasakan Laura, aku juga pernah berpikir apa yang akan terjadi saat aku tua nanti jika akhirnya aku benar-benar tidak menikah? Apa aku akan hidup sendiri dan meninggal sendiri tanpa ada yang tau apalagi menemani saat terakhirku? Hal itu juga yang membuat orangtua-ku tetap sulit menerima kenyataan bahwa aku ini tidak tertarik pada siapapun. Ayah pernah berkata kalau tidak apa jika aku tidak mau menikah, yang penting aku punya penghasilan sendiri tanpa perlu mengandalkan orang lain. Tapi aku tetap sering melihat matanya memandang-ku dengan iba saat ada kabar seseorang yang kami kenal menikah.

Aku tau, walaupun akhirnya aku menikah tetap tidak ada jaminan bahwa aku tidak akan sendiri di akhir hidupku. Sehingga sering aku membayangkan kalau mungkin akan lebih mudah untuk semua orang jika aku meninggal lebih dulu sebelum mereka. Aneh, ya? Seperti sudah siap untuk mati saja.
Aku bukan suicidal atau berpikir untuk mencabut nyawa-ku sendiri. Sebagai muslim, aku tau (secara keilmuan) apa ganjaran dari bunuh diri. Tapi itu tidak membuat-ku berhenti berpikir bahwa aku tau banyak cara (hasil dari hobi membaca cerita detektif) mudah, cepat, dan dengan sedikit rasa sakit untuk mengakhiri hidup-ku.

Aku belum pernah menyakiti badan sendiri atau apapun, tapi pikiran bahwa aku tau caranya sudah muncul sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saat itu, hanya pikiran itu saja yang bisa membuat-ku tenang dan bisa terus bertahan hidup.Bahwa aku bisa mengakhiri apa yang aku rasakan kapanpun juga. Bahwa aku yang memegang kendali dalam kehidupan-ku. Mungkin hal itu juga yang membuatku mempunyai toleransi tinggi terhadap rasa sakit.

Dengan ketergantungan-ku terhadap keluarga, tentu saja pilihan tentang cara mencabut nyawa sendiri itu tidak pernah jauh dari pikiran-ku. Aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana aku bisa hidup tanpa salah satu atau semua anggota keluarga-ku. Karena itu dengan egoisnya aku terus berpikir kalau semua akan menjadi lebih mudah bila aku duluan yang pergi. Apalagi saat membayangkan kalau aku harus merepotkan mereka saat aku sudah tidak bisa apa-apa sendiri saat tua nanti.

Waduh jadi parah begini postingannya. Yah mungkin aku harus mulai berpikir positif (ketinggalan kereta) dalam menjalani hidup ini. Harus yakin bahwa Allah pasti akan memberi-ku jalan yang terbaik di mata-Nya (walaupun mungkin tidak terlihat begitu di mata-ku). Alhamdulillah…

~yuu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s