Same-Sex Marriage and Indonesia

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 26 Juni 2015, kaum LGBTAIQ+ Amerika bersuka cita menyambut keputusan Mahkamah Agung mereka yang menyatakan bahwa pasangan sesama jenis memiliki hak untuk menikah, dan sah di mata hukum, di seluruh 50 negara bagian Amerika Serikat.
Sebelumnya sudah ada 37 negara bagian yang mengesahkan pernikahan sejenis, tapi hal itu tetap menimbulkan masalah karena bila pasangan yang sudah menikah di satu negara bagian pindah ke negara bagian yang lain (yang masih melarang pernikahan sejenis) maka pernikahan pasangan tersebut tidak berlaku lagi di tempat tinggal baru mereka.

Selain karena ada keinginan untuk meresmikan suatu hubungan di mata hukum, ada beberapa manfaat yang hanya bisa didapat setelah seseorang (atau satu pasangan) resmi menikah. Contoh-nya bisa kalian baca sendiri di bawah ini.

image

image

image

image

Sepertinya kurang adil, ya, kalau kelebihan tersebut hanya bisa dinikmati oleh mereka yang sudah resmi menikah? Ya memang seperti itu peraturannya.

Tapi walaupun sudah dinyatakan legal untuk menikah di semua negara bagian, ternyata ada juga kekurangan/hal negatif yang bisa dialami oleh pasangan sesama jenis yang memutuskan untuk menikah jika salah satu atau keduanya merupakan seorang disable atau menikah di negara bagian tertentu.

image

Lalu apa hubungannya dengan Indonesia? Seperti biasa, kalau ada kejadian apapun di dunia, rakyat Indonesia merasa perlu untuk berperan serta (bahkan kadang lebih heboh daripada mereka yang mengalaminya sendiri).
Dari kalangan penyuka sesama jenis, ada yang sekedar memberi selamat dan ikut bergembira untuk sesama mereka, ada juga yang bermimpi kapan Indonesia akan mengikuti jejak Amerika dan negara-negara lainnya yang sudah meresmikan pernikahan sejenis.

Justru yang paling heboh adalah para Heteroseksual, baik yang mendukung (Ally) ataupun yang menentang.
Para pendukung akan memajang foto profil berhias pelangi di akun sosial media mereka. Lalu para penentang akan merunut semua alasan kenapa mereka menentang pernikahan sejenis. Lalu para pendukung akan menyampaikan pendapat mereka. Buntut-nya ya perang argumen di sosial media tanpa ada yang mau mengalah. Tapi apa itu salah? Tentu tidak, kalau mereka tau apa yang diinginkan kaum LGBT+ di Indonesia. Ga usah jauh-jauh ngomongin yang di Amrik sono dulu. Dan seperti yang aku tulis di paragraf sebelumnya, banyak kaum LGBT+ di sini yang turut bergembira untuk kawan mereka di Amerika Serikat. Tapi mereka menganggap isu pernikahan sejenis itu bukanlah sesuatu yang terlalu penting, seperti yang disampaikan di blog Mas Tarjo ini.

Pendapat-ku? Menikah atau tidak-nya seseorang itu adalah hak dan urusan mereka sendiri. Tentu saja akan lebih baik jika mereka diberi hak untuk meresmikan hubungan itu apabila mereka memutuskan untuk menikah.
Tapi aku tidak memasang gambar pelangi di foto akun sosial media-ku. Aku memilih memasang Ace Pride flag karena aku berpikir setelah pernikahan sejenis diresmikan, inilah saatnya membahas masalah-masalah lain di kalangan MOGAI (LGBTI+) seperti contohnya meningkatkan kesadaran tentang mereka yang ada di balik tanda plus (+) yang masih belum sepopuler orientasi seksual yang lebih dulu di’terima’ masyarakat.

image

Bagaimana soal larangan agama dan semacamnya? Sebenarnya yang dilarang agama itu kan adalah perilakunya, bukan orientasi seksual-nya. Bagaimana kita bisa tau apa yang mereka lakukan di balik pintu rumah mereka? Seperti pasangan lesbian Kristen yang memilih untuk selibat karena keyakinan mereka. Atau orang-orang Aseksual yang memiliki hubungan queerplatonic (hubungan emosional dengan seseorang tanpa ada hubungan romans) tapi memutuskan untuk menikah karena satu atau lain hal.

Tapi semua kembali lagi urusan pribadi masing-masing. Kita hanyalah manusia yang penuh dosa. Siapa yang bisa memastikan dosa kita tidak lebih besar dari dosa mereka yang menyukai sesama jenis? Apalagi sebagai seorang Aseksual, aku rasa ada orang-orang yang berpikir kalau aku ini lebih menentang kodrat daripada para penyuka sesama jenis sebab aku tidak memiliki hasrat seksual terhadap siapapun. Bukankah kodrat manusia yang membuat mereka memiliki keinginan untuk ‘berpasangan’? *roll eyes*

~yuu (yang lagi pengen makan gado-gado, sampai postingan pun gado-gado)

(gambar didapat dari tumblr.com)

Advertisements

2 thoughts on “Same-Sex Marriage and Indonesia

  1. Aku termasuk yang bergembira dan mengganti picture profile, menurutku itu jadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa I am supporter of gay marriage. Terus debat panjang, tapi aku suka ada debat panjang, karena topik ini jadi pembicaraan lagi.

    1. Aku juga mendukung marriage equality tapi foto profil memakai twibbon Ace Pride karena yang disahkan kemarin adalah pernikahan sesama jenis dari semua seksualitas (minus heteroseksual). Yang lain pun lebih banyak memilih memakai pride flag masing-masing karena mereka juga ingin agar orientasi seksual mereka mendapatkan tempat di masyarakat. Setiap membahas LGBT+ yang menjadi fokus selalu Lesbian/Gay/Bi/Trans, sedangkan yang lain cuma tambahan (Pluseksual) dan ga ada yang tau apa isinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s