Asexuality and Marriage in Islam

Walaupun aku bukanlah seorang yang tidak suka atau membenci aktivitas seksual (secara teori), tapi tetap akan ada masalah yang bisa timbul karena orientasi seksualku jika aku memutuskan untuk menikah di masa yang akan datang.

Di beberapa posting-an sebelumnya aku pernah menulis bahwa aku hanya akan menikah dengan laki-laki yang mau mengerti, memahami, dan menerimaku sebagai seorang Aseksual. Tapi apa itu cukup? Mungkin di awal dia bisa menerima keadaan ini tapi apa bisa selamanya? Bagaimana kalau ternyata rasa percaya dirinya rendah dan membuat mereka merasa ‘sempurna’ saat sang istri tidak bergairah saat melihat dia telanjang? Atau karena si istri tidak pernah ‘minta jatah’ dan baru bereaksi setelah diberi rangsangan?

Aku yakin bahwa setinggi apapun kepercayaan diri seseorang, akan sulit untuk dia tidak merasa ‘kurang’ saat dia tidak bisa membuat pasangannya tertarik secara seksual padanya. Semua itu adalah hasil dari hal-hal berbau seksualitas yang selalu kita jumpai di kehidupan kita sehari-hari. Dan aku tidak hanya bicara tentang film, video musik, atau pornografi, tapi juga iklan-iklan yang bisa kita (adik dan anak kita) lihat setiap saat tidak lepas dari unsur-unsur seksual. Dari iklan minuman hingga pelapis dinding anti bocor, semua membuat kita langsung berpikir tentang berhubungan badan atau sesuatu yang menggairahkan para pria.
Makanya masih sangat sedikit pria Aseksual yang mau berterus terang tentang orientasi seksualnya karena hampir semua orang berpikir pria = seks. Makin sering = makin jantan. Oleh sebab itu masyarakat menganggap wajar saat seorang pria sering berganti pasangan (tapi menuduh seorang perempuan gampangan bila sering terlihat bersama pria yang berbeda-beda.). Apa jadinya kalau tiba-tiba ada pria yang mengatakan bahwa dia tidak merasakan apa yang dirasakan pria-pria lainnya? Kebanyakan orang pasti akan menganggap pria itu adalah seorang gay atau dia memiliki penyakit disfungsi ereksi atau semacamnya.

Kembali ke topik utama, walau si pria tidak mempermasalahkan ketidak tertarikanku (secara seksual) padanya, tetap saja akan ada masalah yang timbul seperti pada pasangan lainnya. Tapi bagaimana kalau si suami kemudian mengungkit ‘pengorbanan’ yang sudah dia lakukan? Ribet, kan?

Sebenarnya apa sih pandangan Islam tentang pernikahan?

Seperti yang tertulis di Al Quran surat Ar-Rum ayat 21 yang berbunyi:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara-mu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. “

Dan hadist yang disampaikan oleh
Abdullah Ibnu Mas’ud RA:
Rasulullah
Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam
bersabda pada kami: “Wahai generasi
muda, barangsiapa di antara kamu
telah mampu berkeluarga hendaknya
ia kawin, karena ia dapat
menundukkan pandangan dan
memelihara kemaluan. Barangsiapa
belum mampu hendaknya berpuasa,
sebab ia dapat mengendalikanmu.” (Al-Bukhari dan Muslim)

Jadi bisa disimpulkan bahwa pernikahan itu adalah hal yang sangat dianjurkan dalam Islam, tapi bukanlah termasuk kewajiban untuk semua Muslim. Lalu buat siapa saja? Mungkin bisa dilihat dari penjelasan tentang hukum nikah yang aku peroleh dari Wikipedia.

Hukum pernikahan bersifat
kondisional, artinya berubah menurut
situasi dan kondisi seseorang dan
lingkungannya.
Jaiz, artinya boleh kawin dan boleh juga tidak, jaiz ini merupakan hukum dasar dari pernikahan.
Perbedaan situasi dan kondisi serta motif yang mendorong terjadinya pernikahan menyebabkan adanya hukum-hukum nikah berikut.
Sunat , yaitu apabila seseorang telah berkeinginan untuk menikah serta memiliki kemampuan untuk memberikan nafkah lahir maupun batin.
Wajib , yaitu bagi yang memiliki kemampuan memberikan nafkah dan ada kekhawatiran akan terjerumus kepada perbuatan zina bila tidak segera melangsungkan perkawinan. Atau juga bagi seseorang yang telah memiliki keinginan yang sangat serta
dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam perzinahan apabila tidak segera menikah.
Makruh , yaitu bagi yang tidak mampu memberikan nafkah (lahir maupun batin).
Haram , yaitu apabila motivasi untuk menikah karena ada niatan jahat, seperti untuk menyakiti istrinya, keluarganya serta niat-niat jelek lainnya.

Jadi bolehkah seorang Aseksual menikah? Tentu saja boleh, asalkan mereka terlebih dahulu menjelaskan tentang keadaan mereka sebagai Aseksual ke pasangan dan keduanya yakin bahwa orientasi seksual mereka tidak akan menjadi masalah di kemudian hari.

Lalu bagaimana dengan Aseksual yang tidak suka atau benci dengan kegiatan seksual (sex-averse/sex-repulse)? Mungkin hukumnya bisa termasuk Makruh, karena kemungkinan besar mereka akan kesulitan memberikan nafkah (suami) ataupun melaksanakan kewajiban (suami-isteri). Dan juga karena mereka akan menyiksa diri sendiri saat harus berhubungan badan dengan pasangan. Jadi harus benar-benar dibicarakan oleh kedua belah pihak sebelum berpikir untuk melanjutkan ke arah pernikahan.

Dari semua penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa menikah atau tidak-nya seseorang adalah hak tiap-tiap individu untuk memutuskannya, asalkan mereka bisa menjaga diri dan jauh dari perbuatan zina. Khususnya untuk para sex-averse atau sex-repulsed dalam orientasi seksual apapun yang malah akan menyakiti diri mereka sendiri secara fisik atau mental jika dipaksa untuk menikah.
Dan kita juga berhak untuk diam dan tidak memberi penjelasan kepada siapapun yang kepo kenapa kita memilih untuk menikah ataupun tidak.

~yuu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s