Asexuals Don’t Exist? Part 2

Malam Sabtu kemarin tumben sekali bisa ngobrol dengan Ibu sampai jam 1 dinihari. Walaupun terlihat dekat, tapi sebenarnya hubunganku dan Ibu tidaklah seharmonis itu. Kenapa? Panjang ceritanya dan kurang ada hubungannya dengan apa yang ingin aku ceritakan.

Malam itu awalnya kami bicara tentang gosip seorang ustad dan kecenderungan orang Indonesia yang selalu cepat ikut-ikutan dalam hal apapun. Dari hobi, barang koleksi, pakaian, sampai ikut menghakimi orang tanpa tau awal masalahnya.
Entah darimana mulanya tapi tiba-tiba Ibu mulai berbicara tentang pernikahan, seperti apa aku akan terus seperti sekarang ketika Ibu dan Ayah sudah tua dan adik-adik sudah punya kehidupan sendiri. Aku mencoba menjelaskan bahwa aku tidak berniat untuk tidak menikah, tapi karena aku tidak pernah tertarik dengan siapapun. Aku sudah memberikan kesempatan pada siapapun yang ingin dekat denganku. Hanya seringnya mereka itu sudah membuatku ilfil bahkan sejak pertemuan pertama. Ada yang terlalu lebay, sok perhatian, sok romantis, bilang ke mak comblang udah cocok tapi nol usaha buat lebih mengenalku, dll. Tidak ada yang mencoba memulainya sebagai sekedar teman ngobrol dulu, dan selanjutnya terserah Anda! *iklan*.
Aku bilang ke Ibu kalo aku ingin siapapun yang benar-benar serius ingin menjalin hubungan dengan ku agar mau memberi waktu untuk kami berdua bisa saling mengenal karena aku lebih tertarik dengan kedekatan emosional daripada fisik.

Ibu bilang dia mengerti maksudku, tapi kemudian Ibu bilang kalau dulu Ibu juga tidak tertarik kepada Ayah. Saat aku tanya kenapa Ibu memilih untuk menikah dengannya, Ibu bilang kalau hanya Ayah saja yang mau berjanji akan menerima dan menyayangi aku seperti anak sendiri. Dan benar, Ayah menepati janjinya. Tapi kalau aku melihat perkawinan mereka, there are much left to be desired.

Mungkin aku salah atau kurang lengkap dalam memberi penjelasan. Aku bahkan tidak mengatakan dengan tegas bahwa aku aseksual. Apa itu bisa merubah ketidak-mampuan Ibu untuk menerima bahwa aku tidak peduli tentang laki-laki? Mungkin tidak, karena Ibu selalu bilang kalau aku hanya belum menemukan orang yang tepat. Bukankah itu yang selalu dikatakan orang-orang saat mendengar tentang aseksuals?
Ibu yang bangga senang ketika mendapat perhatian dari lawan jenis tentu sulit mengerti kalau aku tidak peduli tentang hal seperti itu.
Mungkin Ibu juga berfikir bahwa keinginanku untuk memiliki kedekatan emosional dengan ‘calon’ calon suami itu sama seperti perempuan-perempuan lain yang memilih untuk mengenal lebih jauh calon pasangannya. Hanya saja Ibu tidak tau kalau aku bukan memilih tapi karena aku memang tidak merasakan keinginan untuk menjalin suatu hubungan sebelum memiliki kedekatan emosional terlebih dahulu. Ya kecuali kalau memang ingin menikah sekedar menikah saja. Tapi aku tidak mau hal itu terjadi karena sudah pasti akulah yang akan menderita.

Yah setidaknya Ibu sudah bisa sedikit mengerti, bukannya aku tidak mau menikah. Aku hanya ‘belum bertemu orang yang tepat’ saja. Yaitu orang yang bisa mengerti bahwa aku ini aseksual lho, jadi maaf, kalo kamu striptease juga aku ga bakal horny tapi bukan karena kamu ga menarik atau ‘sexy’ ya. Mengerti kalau aku tidak jijik untuk berhubungan badan tapi juga tidak menginginkannya, jadi aku harap kamu juga mau berkompromi soal kapan waktu untuk melakukannya dan tidak menjejaliku dengan agama saat aku tidak mau melayanimu. Dan memahami kalau aku ga bakal tertarik buat memulai hubungan apapun sama kamu sebelum aku merasa memiliki hubungan emosional terlebih dulu.

Kebanyakan ya syaratnya? Egois? Mungkin saja. Toh hanya ‘orang yang tepat’ yang bisa memenuhinya. Dan aku juga tidak bisa merubah apa yang aku rasa. Aku tidak mau memulai apapun dengan kebohongan jadi ya take it or leave it.

~yuu

Advertisements

2 thoughts on “Asexuals Don’t Exist? Part 2

  1. Aku curiga kalau mamaku juga aces. Soalnya klo aku intrograsi mama ditanya cinta atau nggak sm papa suka dijawab “ya karna cuma papa kamu yg melamar, dan kebetulan cukup tampan” terus klo ditanya soal berhubungan, mama selalu bilang karna beliau pengen punya anak saja. Beliau juga cerita kalau sebelum bertemu dgn papa, tidak pernah berpacaran sekalipun, juga jarang naksir pria lain. Dan fakta mengejutkan adalah bahwa mereka berhenti melakukan hubungan sejak aku lahir karna tidak berniat punya anak ketiga, dan fakta klo mereka tidur terpisah sejak aku SD(ibu menikah di umur 30, jarak sampai lahirnya aku sekitar 6tahun, menopause saat 45 tahun)…tapi toh gak ada masalah sm hubungan pernikahan mereka dan setiap hari berlalu begitu saja ‘baik2 aja’ saya sih curiga kalau mama juga aces cuma karna pengaruh ketidaktahuan terhadap aseksualisme dan persepsi beliau yang tidak menyadari kalau dirinya aces (konsep bahwa kalau melakukan hubungan badan berarti normal2 saja)
    Menurut perkiraanku sih hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s