Asexual Myths

Setelah baca artikel ini, aku jadi pengen nulis pendapat/pengalamanku dengan berpatokan pada isi artikel tersebut (iya, aku orangnya males dan berantakan kalo melakukan sesuatu tanpa ada acuan/petunjuk).

So let’s begin!

Myth 1: Asexuals don’t exist

“Apaan tuh aseksual?”

“Emang ada yang begitu?”

“Belum nyoba aja dia”

“Belum ketemu jodohnya”

Kalimat di atas itu yang sudah pernah aku dengar. Memang agak ngeselin dengernya tapi aku sadar mereka bilang begitu karena mereka belum tau. Kalo kata mahasiswa yang lagi nyusun skripsi tentang perilaku seksual online “ga umum, mbak”, pas aku tanya kenapa ga ada pilihan aseksual di bagian orientasi seksualnya.

Aseksual itu ada, bukan bikinan apalagi cuma buat cari perhatian. Hingga saat ini aku masih berharap bisa ketemu jodohku (orang yang bisa mengerti, memahami, dan menerimaku), tapi bukan berarti aku akan berubah jadi heteroseksual saat waktu itu tiba. Aku akan tetap aseksual walaupun akhirnya aku menikah dan memiliki anak. Lebih jelasnya akan dibahas di bagian selanjutnya.

Myth 2: Asexuals don’t fall in love

For those that need a dictionary
definition, asexual is an orientation
where people do not feel sexual
attraction.

Seperti yang tertulis di atas. Aseksual adalah orientasi seseorang di mana dia tidak merasakan ketertarikan seksual terhadap siapapun, baik laki-laki ataupun perempuan.
Mereka masih bisa mencintai dan menginginkan seseorang menjadi pasangan mereka tanpa merasakan ketertarikan secara seksual. Ada yang mencintai lawan jenis yang disebut heteroromantic. Ada juga homoromantic yang lebih partner dari sesama jenis. Ada pula biromantic dan panromantic. Sedangkan aromantic aseksual adalah seseorang yang tidak memiliki ketertarikan dalam hal roman/cinta dan juga secara seksual.

Kalo bisa berhubungan seks tanpa cinta, kenapa tidak cinta tanpa seks?

Myth 3: All asexuals hate sex

‘There’s a spectrum of asexuals who
are anywhere from what you might
call “repulsed” to what you might call
“indifferent”.

Tidak begitu jauh berbeda seperti kaum gay dan seks dengan lawan jenis. Ada yang baru mikir soal itu aja udah jijik. Tapi ada juga yang tidak peduli dan hanya melakukannya karena kewajiban, contohnya cewek lesbian yang nikah sama cowok.
Kaum aseksual juga seperti itu. Ada yang sama sekali tidak mau bahkan untuk memikirkan soal seks. Ada yang mau melakukannya karena ingin membahagiakan pasangan (bila pasangannya bukan aseksual). Atau ada juga yang mau karena alasan tertentu, seperti ingin memiliki keturunan (baik yang pasangannya aseksual ataupun bukan). Kadang mereka juga bisa merasakan kenikmatan tapi mereka tetap tidak merasakan ketertarikan seksual terhadap pasangannya itu.

Myth 4: Asexuals don’t masturbate

Because gay, bi and straight people
connect masturbation with the
simulation of sex, it’s tied up in our
minds in that way.
For asexuals, it’s a little different on
what they imagine when they
masturbate.

Kalo buat aku, autochorissexualism.

image

Myth 5: Asexuals can only date other asexuals

‘Relationships where one of the
partners is asexual work best when
both go in with their eyes open and are
accepting of each other’s sexuality,’
Michael said.
‘It’s part of the reason why we need
more asexual awareness because
sometimes an asexual person gets
into a relationship, they say they’re
not interested in sex, and it’s not
taken seriously.

Sama kayak pas aku nulis status di fb tentang ada ga laki-laki yang mau menikah sama perempuan aseksual. Ada yang komen kalo aku mesti nyari cowok yang aseksual juga. Aku bilang ke dia, susah carinya kan ga umum di Indonesia. Terus dia ngasih saran supaya aku nyari komunitas atau support groupnya. Susyeh, bang! Wong situs yang ngasih edukasi dan awareness tentang aseksual aja diblokir sama provider selulerku :'(.

Sebenarnya sih aku mau berkompromi soal seks kalo seandainya ada yang mau dan bisa aku terima jadi pasanganku. I’m not that repulsed by the notion of having sex. Tinggal si pria-nya aja. Bisa ga dia berkompromi? Jangan-jangan di depan bilang iya eh setelah nikah tinggal bawa-bawa agama pas aku ga mau ngelayanin. Mungkin harus bikin perjanjian pra-nikah kali ya?

Myth 6: Asexuality is no difference from celibacy

The difference is celibacy is a choice
not to have sex while asexuality is is
an orientation.

Aku belum pernah sekalipun berhubungan seks, dalam bentuk apapun. Pengalaman sama cowok itu cuma ciuman pas SMP. Ciuman thok! Jangankan urusan alat kelamin, dadaku aja masih perawan.

Aku dulu berfikir kalo aku menjaga diri karena tidak ingin melanggar syariat agama. Tapi kalo ditilik lebih lanjut, aku ga melakukannya karena aku ga tertarik dan ga ada keinginan untuk melakukannya.

Myth 7: Asexuals just have low sex drives or something wrong with them

Some asexual people have low sex
drives, but there are asexual people
who have normal sex drives or even
high sex drives.

Kemarin ada yang bales twit-ku tentang aseksualitas. Dia bilang emang seterusnya begitu (aseksual)? Kali aja diterapi bisa berubah.
Aku kurang tau maksud dia diterapi itu dalam bentuk apa, tapi dari yang pernah aku baca ada orang yang menjalani terapi hormon sebelum dia sadar tau kalo dia aseksual. Dan terapi hormon itu ga ada pengaruhnya sama orientasi seksualnya.

Think of being a gay guy on a desert
island where there are only women,
Michael posits. You might have a sex
drive, you want to do something about
it, but there is no one you’re sexually
attracted to. You might eventually do
something to get rid of it, but it still
doesn’t change the fact you are
attracted to men. It’s the same with
asexuals.
And yes, asexuality is completely
normal and is separate to what is
going on with your hormones.

Myth 8: Asexuals are not bullied

Well bisa dibilang aku ga punya pengalaman dengan bully. Selama ini kebanyakan orang-orang memilih diam atau sekedar kasih emot senyum atau shock saat aku bilang aku aseksual. Kalaupun ada yang bilang bahwa mereka ga percaya atau menganggap aku mengada-ada, aku pikir itu wajar karena mereka belum punya pengetahuan yang benar aja.

Myth 9: There are no reason for asexuals to “come out”

‘I’m not blaming people who don’t
because some people just don’t know
it themselves,’ he said. ‘But I think if
you get into a relationship, the other
person needs to know what to expect.’

Sama seperti kaum gay yang memutuskan buat come out, memang ga ada keharusan buat kaum aseksual buat ngaku ke keluarga, teman, atau sejawatnya kalo mereka ga tertarik sama seks.

Terus kenapa ngaku juga? Butuh pengakuan dari orang lain? Caper?

Kalo aku sih ga pernah ada niat buat come out. Toh dari dulu aku juga sudah begini. Bedanya sekarang aku sudah tau namanya dan tau kalo aku bukan satu-satunya (narsis beud!) yang merasakan hal itu. Setelah ngaku aku jadi lega (karena ga ada lagi yang nanya rencana buat nikah) (ngarepnya). Tapi kadang kesel juga karena masih banyak yang mempertanyakan kebenaran kata-kataku.
Makanya aku pengen lebih banyak lagi orang yang tau dan paham apa itu aseksualitas. Mungkin saja banyak di luar sana orang yang berfikir dirinya ga normal, sakit (banyak kaum LGBTIQ yang masih melabeli diri mereka dengan kata ini), broken, hanya karena mereka tidak tau bahwa apa yang mereka rasakan itu juga dirasakan orang lain. Juga untuk mengedukasi masyarakat bahwa aseksual itu ada dan agar mereka tidak gampang menghakimi orang-orang yang tidak kunjung menikah itu karena mereka gay, lesbian, tidak laku, atau semacamnya.
Hak untuk memutuskan menikah atau tidaknya seseorang itu hanya ada di tangan orang itu sendiri. Memang mereka mau disuruh tanggung jawab saat orang yang mereka paksa bujuk untuk menikah ternyata malah menderita?

Untuk bagian Myth 10: Asexuals do not fit in with the LGBTIQ community dan
Myth 11: There are no fight for asexuals to win aku ikut artikel di link aja. Aku kan baru belajar tentang macam-macam tipe aseksualitas selain dari apa yang aku rasakan dan alami sendiri. Dan walaupun banyak teman online-ku adalah kaum LGBTIQ, aku sendiri tidak pernah aktif dalam kegiatan dan tidak tau agenda-agenda dari komunitas mereka.

Sekali lagi yang aku inginkan hanyalah makin banyak orang yang tau dan mengerti tentang aseksualitas sehingga makin berkurang jumlahnya orang-orang yang merasa tersiksa karena harus bersandiwara menyukai/menikmati seks sebagai kaum hetero/bi/homo-seksual hanya agar tidak dibilang cacat/broken.

Kalian tidak cacat. Kalian tidak sendiri. Walaupun kita adalah kaum minoritas di antara kaum minoritas tidak menjadikan apa yang kita rasakan jadi tidak penting atau tidak nyata. We are who we are. Jangan memaksakan diri menjadi sesuatu yang lain hanya agar bisa diterima masuk ke lingkungan tertentu. We are one of a kind. Besides being normal is overrated :’).

~yuu

Advertisements

10 thoughts on “Asexual Myths

  1. Saya rasa ada tambahan: asexuals don’t face opression and challenges because of their sexual orientations. Saya kira ini ada hubungannya dengan myth yang ke-8 hingga ke-11 karena biasanya ini sering dijadikan alasan untuk menginvalidasi aseksualitas sebagai identitas yang ‘queer’, minorities serta butuh dukungan dan visibilitas. Hal ini juga seringkali dijadikan alasan untuk menyepelekan identitas aseksual.

    Ini saya pikir berasal dari miskonsepsi bahwa semua identitas yang berada di bawah payung MOGAI menghadapi opresi dan tantangan yang sama. Identitas MOGAI yang mempunyai paling banyak visibiltas adalah homosexual sehingga banyak yang berpikir bahwa MOGAI=komunitas gay dan agresi yang dialami MOGAI=homophobia gak peduli kalau identitasnya berbeda dari homosexual. Hal ini tentu saja salah dan menghapus banyak identitas lain di bawah payung MOGAI sebagai bisexual, trans*, pansexual dan tentu saja asexual. Banyak identitas yang berada di bawah MOGAI yang menghadapi tantangan yang lebih spesifik ke identitas mereka masing-masing seperti bi-/pansexual yang mengalami bi-/pan-phobia, bi-/pan erasure, dibilang rakus, dibilang plin-plan dan mereka yang trans* mengalami transphobia dan isu-isu lain yang spesifik ke identitas trans*.

    Sekarang kita balik lagi ke asexual. Melihat yang diatas, saya rasa mentalitas “asexual gak mengalami opresi” itu karena asexual biasanya gak mengalami diskriminasi seperti yang dialami oleh kaum homosexual kecuali dia homoromantic (dan ini bakalan membawa kita ke isu intersektionalitas yang gak akan saya bahas di sini karena saya gak mau panjangin comment). Asexual mengalami diskriminasi sama seperti orientasi non-straight lainnya, tetapi diskriminasi yang dialami biasanya berbentuk acephobia atau ace erasure. Identitas aseksual di-invalidasi dan dihapus dan disalahkan pada hal-hal seperti penyakit atau hormon atau masalah medis dan psikologis lainnya. Aseksual juga sering kali tidak dipahami dan sering kali juga identitasnya menjadi bahan ejekan (saya pernah mengalami ini). Aseksual juga ada yang mengalami corrective rape dalam usaha untuk membuat mereka “normal”. Selebihnya saya rasa sudah mbak/kakak tuis di atas, saya cuman nambahin aja di sini :p

    Dan kalau mau contoh diskriminasi aseksual yang nyata, silahkan Google Steven Moffat, seorang penulis untuk serial TV BBC “Sherlock” yang karakter utamanya banyak diduga sebagai aseksual, mengatakan kalau orang-orang aseksual itu “membosankan”

    (Long comment, sorry >_<)

    1. Makasih ya atas tambahan-nya.
      Waktu aku nulis ini, aku belum benar-benar came out di sosmed. Aku baru terbuka di saat ace day dan baru di situ aku dapat ‘feedback’ yang bisa kamu baca di aftermath ace day.

  2. Semuanya udah dialami X’D banyak yg ngomong “ah cuma belum nemu jodoh aja” “ah pasti pernah ngerasain” “gak mungkin gada keinginan ke arah situ” “pernah trauma ya?” Dll…dan karna aku agak boyish banyak yg bilang aku cuma belum nerima keadaan sebagai cewe aja..susah emang ngejelasin ke orang awam…lah gimana ya aku single karna keinginan sendiri..dan sama pernah pacaran juga cuma mentok di kiss, itupun aku ngerasa aneh dan ujung2nya selalu menolak..karna ga tahan diminta kiss mulu sm pacar akhirnya aku putusin, susah kali meyakinkan dia kalau aku ga suka

    1. Yah begitulah. Apalagi aku ini kan aromantic, pas aku bilang ga pengen menikah, sambutannya wow! Dari orangtua, temen kerja dan temen SMA. Ada yang cerita tentang ‘keindahan’ pernikahan sampe ‘mengingatkan’ tentang hari tua nanti.

      Tetap semangat! Kamu ga sendiri kok 🙂

      1. Aku sih belum sampai terus terang ke ortu kalau aku aces, cuma aku pernah iseng nanya kalau aku ga nikah gimana.. dan betul sih tanggapan ortu seperti itu, suka cerita indahnya pas pernikahan dan senangnya pas punya anak X’D walaupun sering ke pesta pernikahan juga ‘i feel nothing’ tapi pasti bakal susah ngejelasinnya. Bahkan pernah suatu hari pas ortu lagi cerita ttg itu lagi, nyeletuk klo aku ga normal gara2 tanggapan aku datar.. walaupun nadanya bercanda rasanya sakit hati sih X’D *malah curhat*

        Saya baru punya seorang temen yg aces, komunitas aces di sini susah dicari ya ∪ˍ∪

  3. Haaiii >_<
    You don't know how glad i am to meet this website and especially you the writer ehehehe
    Aku juga punya pengalaman lebih tepatnya pencarian jati diri sih. Awalnya aku juga ngerasa heran sama diriku sendiri, pas SMA aku ga kaya anak cewe pada umumnya yg heboh bgt cerita soal cowo ganteng, pacaran, hug, kiss, sex, dll aku cuek aja bahkan aku ga bakal nyambung kalo diajak ngomong begitu. Pernah aku coba pacaran tapi aku ga ngerasain sensasi apa2 kecuali rasa sayang aku ke dia, sayang dalam artian disini adalah aku cuma pengen mengenal dia lebih jauh, menghabiskan waktu bersama pokonya quality time sama dia tanpa adanya kontak fisik. Sedangkan mantan aku yg dulu itu orangnya suka nyosor, minta kiss mulu tapi aku ga mau. Trus 2 bulan kemudian aku diputusin dengan alasan katanya aku terlalu dingin yaudahlah aku terima aja. Dari lulus SMA sampe sekarang tahun terakhir ku di kuliahan aku ga pernah pacaran lagi sama seseorang. Aku bingung sama diriku sendiri, banyak temenku yg udah nikah, punya anak sedangkan aku baru sadar udah 5 tahun aku jomblo dan pacaran pun baru sekali. Setelah aku banyak baca tentang aseksual, semua ciri-cirinya sama 🙂 termasuk apa yg udah kamu dijelasin diatas semua itu aku rasain, seorang aseksual bisa suka dan jatuh cinta tapi kalo seks? I think no. Sebel juga sih banyak orang yg kepo "Kok kamu ga punya pacar?" "Kenapa sih ga mau pacaran?" "Trauma ya?" dll tapi bukan itu alasan sebenarnya 🙂 sempet mikir aku mau coming out tapi aku yakin ortu dan sodara pasti kaget bgt apalagi terbesit dalam pikiranku kayanya aku ga bakal nikah. Pernah aku nyeletuk "Bu, kalo aku ga nikah gimana?" dan akhirnya aku diceramahin panjang lebar LOL
    Mungkin di Indonesia aseksual itu masih jarang bgt daripada gay dan lesbian, jadi belum banyak orang yg tau. Bahkan mereka menganggap aseksual itu sama dengan lemah syahwat padahal beda bgt 🙂
    Udah lah aku ga mau ambil pusing daripada jadi debat, aku lebih milih diam. Mereka yg selalu menekan aku buat cepet2 nikah ga ngerti gimana sebenarnya keadaan aku. Menurut ku cinta itu universal, aku lebih suka mencintai seseorang dengan setulus hati tanpa melibatkan seks dan percayalah itu rasanya indah bgt.
    Aku juga suka bgt sama karakter fiksi Sherlock Holmes, cerita tentang detektif terkenal yang diduga sebagai aseksual.
    Oh ya aku pengen gabung ke komunitas atau grup yg menaungi kita para aces, kalo ada kasih tau ya. Makasihh…
    Maaf komennya kepanjangan ^^v

    1. Wah makasih udah mampir. Senang rasanya nambah teman baru yang senasib 😀
      Kayaknya setiap orang yang baru tau kalo mereka Aseksual itu pasti campur aduk perasaannya. Lega karena tau kalo kita ga broken dan ga sendiri. Bingung gimana kedepannya. Dan juga takut karena tetap aja kita beda dari orang kebanyakan. But this is who we are.
      Kalo group fb cari aja Asexual Indonesia. Trus ada fp juga AroAceID. Kalo mau gabung di Line tinggal add Idku @ryyuutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s