Birthday Party

Hari ini adikku yang paling kecil berulang tahun yang kesembilan. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini dia ingin dirayakan dengan sebuah kue ulang tahun. Ibu pun membeli sekotak kue coklat berukuran sedang. Ternyata walaupun sudah dibagi untuk tujuh orang tapi kue itu masih tersisa banyak. Yang namanya anak kecil itu memang lebih banyak tergiur barang yang menarik atau karena pengaruh teman.

Sebenarnya selama ini keluarga kami tidak pernah merayakan hari ulang tahun dengan kue atau sesuatu yang spesial. Biasanya kami hanya akan membeli es krim dan memakannya bersama. Dan apabila yang sedang berulang tahun menginginkan sesuatu maka Ayah atau Ibu akan mengabulkannya. Tentu saja dalam batas tertentu, seperti sesuatu yang memang benar-benar mereka butuhkan. Atau juga sesuatu yang pada akhirnya bisa digunakan oleh seluruh anggota keluarga.

Sepertinya jahat sekali ya, apalagi kalo dilihat dari sudut pandang orang yang bisa menjadi pangeran sehari di hari lahirnya. Tapi sepertinya adik-adikku bisa cukup mengerti.
Seperti si Pinky hari ini. Karena dia tidak membutuhkan apapun saat ini (dan karena dia sudah punya keinginan untuk beli kue coklat untuk hari ini sejak ulang tahunnya tahun lalu) jadi Ibu pun mengabulkannya. Dan persis seperti yang sudah kami tebak, sisa kue itu masih cukup banyak. Lapar mata :$

Ketika aku masih kecil dan tinggal di Kebumen, almarhumah Nenek selalu rajin membuatkanku Among-among di setiap wetonku dalam penanggalan Jawa. Ya kira-kira sebulan sekali lah.
Among-among itu sepertinya berasal dari kata emong yang berarti asuh atau jaga.
Tiap wetonku Mbah Putri akan membuat bubur merah-putih dan nasi liwet komplit dengan lauk pauk yang disajikan di atas tampah untuk dimakan bersama dengan anak tetangga sekitar. Lalu Mbah Putri akan membagikan uang seratus rupiah perorang.

Namun semua hilang setelah Mbah Putri meninggal saat aku masih duduk di kelas lima SD. Tapi aku jadi sadar kalau semuanya tidak berarti kalau kamu tidak punya seseorang yang bisa ikut merasakan kebahagiaanmu. Ayah dan Ibu juga coba mengajarkan untuk tidak bersifat materialistis. Bahwa berbagi itu jauh lebih baik daripada yang senang bersifat egois.

Duh ngantuk banget nih jadi muter kemana-mana. Sampai di sini aja dulu. Lain kali disambung lagi. Nighty night!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s