Not Worth It?

Tadi di rumah ada tetangga yang datang karena ada urusan dengan Ayah. Ketika urusan mereka berdua sudah selesai, Ayah lalu menanyakan ke ibu itu tentang teman menantunya yang katanya mau dikenalkan kepadaku.
Saat ibu itu bilang kalo orang yg mau dikenalkannya sudah cukup berumur, aku agak kurang tertarik. Apalagi saat dia bilang kalo pria itu sudah pernah menikah. Ibu itu juga bilang kalo pernikahan pria itu berakhir karena sang istri ketahuan berselingkuh saat usia pernikahan mereka baru beberapa bulan saja.

Mungkin ibu itu berfikir kalo hal itu akan membuatku lebih tertarik untuk mengenal pria itu, tapi hal itu justru membuatku semakin ragu untuk berkenalan dengannya.  Because I thought there are more to it than the plain “his wife must be an unfaithful $!¤+%¿”.

Halah kamu mah kebanyakan baca Conan! Wong hal simpel kok dibikin susah.

Yah mungkin saja aku yang terlalu parno, but you know that saying “There are three sides to every story. Yours, mine, and the truth”. Dan buatku pun begitu.
Dari sisi pria, mungkin mantan istrinya itu hanyalah seorang yang tidak setia. Tapi mungkin lain lagi ceritanya dari sisi si wanita. Mungkin saja alasan dia berselingkuh karena dia tidak mencintai suaminya dan sudah punya pilihan sendiri tapi ter/dipaksa untuk menikah. Atau bisa saja dia menikah karena keinginan sendiri tapi kemudian kecewa karena ternyata tidak sesuai yg dia bayangkan/inginkan.

Memang aku hanya bisa berandai-andai tanpa tau kebenarannya sebelum bertanya ke orangnya langsung. Tapi yang benar-benar mengganggu pikiranku adalah, apakah aku sebegitu tak berharganya kah sampai ibu itu ingin mengenalkan aku ke pria itu? Hanya sampai level itu saja kah pria yang pantas kudapatkan? Apakah aku cuma pantas untuk seorang Satpam duda yg usianya mungkin sama dengan Ayah sambungku?

Aku tidak bermaksud dan tidak pernah berfikir kalo Satpam itu inferior atau rendahan atau apapun. Aku tidak perduli apapun pekerjaan calon suamiku kelak, asalkan dia bertanggung jawab dan mau berusaha keras untuk keluarga.
Aku juga tidak berfikir kalo jadi duda atau janda itu adalah suatu aib, asalkan mereka bukan “penyebab” diri mereka sendiri memiliki predikat duda atau janda tersebut.
Tapi ketika orang lain ingin menjodohkan aku dengan pria itu, berarti dia pernah berfikir kalo aku cocok untuk disandingkan dengan dia. Kalo memang hanya sampai level itu saja yg pantas aku dapatkan.

   And it hurts…

That they ever thought that I’m not worth something or someone better. That they thought that I’m a fool for thinking that I could do and deserves better than that.
Atau memang akulah yang terlalu asik berhayal kalau aku ini cukup berharga untuk diperjuangkan? Apakah ini juga hanya hayalanku saja kalo aku ini pantas dan berhak untuk mendapatkan yang jauh lebih baik?

Aku ga berharap yang muluk-muluk kok. Aku cuma ingin seseorang yg bisa nyambung saat aku ajak bicara. Orang yg tidak akan menganggapku aneh kalo aku lebih suka lirik lagu berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Seseorang yg bagaikan sebuah buku bagus yg walaupun bukan bestseller tapi tidak akan membuatku bosan berapa kali pun aku membacanya.

Aku ingin menikah sekali untuk seumur hidup. Jadi tolong biarkan aku memilih yg terbaik menurut pandanganku sebelum akhirnya ku serahkan pilihanku itu kepada Allah. Tolong, untuk sekali ini saja hargai keputusanku. Toh pada akhirnya akulah yg akan paling banyak terpengaruh dari pilihan dan keputusanku ini.

~yuu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s